Calon Anggota DPD RI Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan Petugas Satpol PP Bali

Calon anggota DPD RI, I Ketut Putra Ismaya Jaya (foto : ist)

BBO.COM – Penyidik Polresta Denpasar menetapkan status tersangka dalam kasus keributan di kantor Satpol PP Provinsi Bali terhadap bakal calon anggota DPD RI, I Ketut Putra Ismaya Jaya. Penetapan terhadap Ismaya dilakukan pasca pemeriksaan selama 24 jam oleh Polresta Denpasar.

“Iya, tadi sore sudah ditetapkan sebagai tersangka. Untuk lebih jelasnya hubungi Kasat Reskrim,” kata Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Hadi Purnomo, Selasa (21/8/2018).

Saat dikonfirmasi, Kasatreskrim Polresta Denpasar Kompol I Wayan Arta Ariawan Ismaya menerangkan, Ismaya disangkakan Pasal 211, Pasal 212, Pasal 214 KUHP dan atau Pasal 351 KUHP dan atau Pasal 335 KUHP.

“Bunyi pasal diatas yakni melawan pejabat pemerintah yamg sedang menjalankan tugas negara dan atau penganiayaan dan atau kejahatan terhadap kemerdekaan orang. Itu dasar penetepan sebagai tersangka,” jelasnya.

Menagggapi hal itu, Kuasa Hukum Ketut Ismaya, Togar Situmorang angkat bicara. Menurutnya, penetapan oleh penyidik Satreskrim Polresta Denpasar ini, dinilai tidak memiliki legal standing (dasar hukum) yang kuat.

“Kami akan lakukan praperadilan. Legal standing ini yang itu harus dipertanyakan. Pasal yang terapkan itu harusnya individu atau korban yang bersangkutan yang melaporkan. Bukan menggunakan laporan model A (laporan polisi),” ucap Togar.

Togar menyebut, dengan naiknya status tersangka dari saksi kepada kliennya, pihaknya akan melakukan upaya perlawanan hukum baik praperdailan, dan juga akan melaporkan pelapor (polisi) yang melaporkan laporan model A.

“Sementara pasal yang diterapkan itu sifatnya individu. Seharusnya korban lah yang melaporkan terkait pasal perbuatan tidak menyenangkan, melawan pejabat. Nah, kami ada bukti meminta statment resmi kepada Satpol PP terkait hal ini (tidak memberikan laporan resmi ke Polisi),” terangnya.

BACA JUGA:  Petugas Gunakan APD Evakuasi Jenazah Buruh Proyek Asal Tegal, Jateng

Informasi diperoleh, kendati telah ditetapkan sebagai tersangka, Ismaya yang juga sebagai Sekjen sebuah Ormas besar di Bali ini tidak ditahan dan hanya wajib lapor.

Untuk diketahui, kasus ini berawal dari aksi dugaan penganiayaan oleh anggota Ormas yang dipimpiin Ismaya terhadap petugas Satpol PP Provinsi Bali saat melakukan protes atas penurunan baliho, Senin (20/8/2018) sore.

Informasi di lapangan menyebutkan, protes belasan anggota ormas tersebut berawal dari penurunan baliho milik Ismaya di Jalan Tjok Agung Tresna Niti Mandala Denpasar, tepatnya di sebelah Kantor Bapenda Bali oleh petugas Satpol PP Provinsi Bali.

Tidak terima balihonya diturunkan, Ismaya dan belasan anggotanya mendatangi Kantor Satpol PP Bali, seraya menanyakan alasan penurunan baliho tersebut. Saat protes itulah diduga terjadi penganiayaan berupa tendangan yang dilakukan anggota ormas terhadap personel Satpol PP.

Massa akhirnya dibubarkan setelah salah satu pejabat Satpol PP datang dan memberikan keterangan. “Massa lalu dibubarkan Shabara Polresta Denpasar,” lanjut sumber tadi.

Selanjutnya, Polresta Denpasar mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Ismaya. Penangkapan Ismaya dilakukan di salah satu lokasi di Denpasar dan langsung dibawa ke Mapolresta Denpasar untuk menjalani pemeriksaan.

Sebelumnya Kabid Trantib Satpol PP Provinsi Bali, Dewa Nyoman Darmadi yang dikonfirmasi , wartawan mengatakan pihaknya memang ada program pembersihan atribut partai dan caleg di Civic Centre Niti Mandala Denpasar.

Pembersihan itu dilakukan berdasarkan rapat dengan KPU dan kepolisian. “Karena ini memang program pemerintah menyambut Annual Meeting IMF-World Bank di Bali. Jadi, hasil rapat 9 Agustus lalu kita lanjutkan dengan gerakan pembersihan bersama,” ujar Dewa Darmadi  (agw)