Dituduh Penyihir, Ibu Astronom Johannes Kepler Ditangkap

BBO.COM – Pada Abad ke-16 dan 17 tuduhan penyihir kerap dilontarkan ke sejumlah perempuan yang bermuara pada eksekusi massal. Namun, yang berbeda dari kasus tersebut adalah, sang ahli herbal, Katharina Kepler adalah ibu dari astronom terkemuka, Johannes Kepler.

Johannes Kepler adalah sosok besar dalam sejarah sains. Salah satu kontribusinya adalah mencetuskan hukum gerakan planet, yang saat ini masih digunakan.

“Dini hari itu, ia (Katharina) diinterogasi oleh Aulber, petugas pengadilan Güglingen, yang didampingi juru tulis untuk merekam pengakuannya,” demikian seperti dikutip dari situs Today I Found Out, Senin (6/8/2018),

Aulber berteriak-teriak ke arah tersangka. Ia memaksanya mengaku. Satu demi satu alat-alat penyiksaan ditunjukkan, jarum panjang, besi panas, catut, batang besi bergerigi, gantungan, dan banyak lainnya.

Aulber memaksa Katharina buka mulut, memberikan pengakuan. Kata dia, dengan itu, meski tak bakal selamat dari eksekusi dunia, ia setidaknya ‘akan menghadap Tuhan dengan nurani yang bersih’.

Namun, Katharina bergeming. “Lakukan apapun yang Anda mau terhadapku. Bahkan jika Anda menarik satu demi satu pembuluh darahku, aku tak punya apapun untuk diakui.”

Katharina dirantai di sel selama 14 bulan. “Ia menjadi subjek ancaman penyiksaan,” kata Ulinka Rublack, pengajar sejarah di St John’s College, Cambridge yang meneliti kasus Katharina Kepler seperti dikutip dari The Guardian.

Melihat ibunya diperkarakan, Johannes Kepler pun tak tinggal diam. Sebab, risiko bahaya terpampang nyata. Enam perempuan di kotanya dieksekusi bakar hidup-hidup atas tuduhan sebagai penyihir.

Pada 1620, Johannes Kepler yang namanya tenar sebagai astronom, astrolog, dan matematikawan kemudian memindahkan keluarganya, dari Linz ke Jerman selatan untuk memimpin pembelaan untuk sang ibu.

“Ia mengambil alih persidangan, dengan mengubah hidupnya, memindahkan keluarganya sendiri,” tambah Rublack.

BACA JUGA:  Karangasem Sukses Raih WTP Tiga Kali

Dalam bukunya, The Astronomer And The Witch, Rublack menyebut pembelaan Johannes Kepler sebagai ‘rhetorical masterpiece’ atau mahakarya retoris — yang berupaya membantah tuduhan penyakit magis lewat pengetahuan tentang obat-obatan dan juga akal sehat.

“Dia sangat jeli menemukan inkonsistensi (dalam tuduhan) dan membedahnya dengan sangat ilmiah,” kata Rublack.

Pembelaannya berhasil. Katharina Kepler dibebaskan pada musim gugur 1621. Namun, perempuan itu meninggal dunia enam bulan kemudian setelah persidangan dinyatakan berakhir.

Rublack mengatakan, hingga saat ini, literatur dalam Bahasa Inggris mengesankan bahwa Katharina Kepler memang seorang penyihir.

Padahal, faktanya tak seperti itu. Rublack telah menelaah dua bundel besar dokumentasi terkait kasusnya. “Jika Anda membaca semuanya, tak ada satupun yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang penyihir.”

Rublack mengatakan, bukunya berupaya untuk menunjukkan apa yang dialami Johannes Keppler dan keluarganya dalam persidangan yang berlangsung selama enam tahun.

“Johannes Kepler dan ibunya berhasil melalui salah satu tragedi paling epik di zaman perburuan penyihir, namun mereka tetap menjaga semangatnya,” kata Rublack. “Sudah saatnya untuk mengevaluasi kembali tentang bagaimana keduanya digambarkan selama ini.”(itn)