KPK Panggil Empat Saksi Suap PLUT Riau-1

Gedung KPK

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil empat saksi dalam penyidikan kasus dugaan tindak pidana korupsi suap kesepakatan kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1.

“Hari ini dijadwalkan pemeriksaan terhadap empat orang saksi untuk dua tersangka berbeda terkait dengan kasus suap pembangunan PLTU Riau-1,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (27/7/2018).

Dalam kasus itu, KPK telah menetapkan dua tersangka, yakni Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Eni Maulani Saragih dan Budisutrisno Kotjo yang merupakan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited.

Tiga saksi akan diperiksa untuk tersangka Eni masing-masing Kepala Satuan Komunikasi Corporate PT PLN I Made Suprateka, pegawai PT PLN Batubara Hartanto, dan pegawai PT Pembangkit Jawa Bali Wildan Baina Iedai El Islami.

Satu saksi akan diperiksa untuk tersangka Johannes, yaitu Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN Supangkat Iwan Santoso.

Dalam penyidikan kasus itu, KPK tengah mengonfirmasi kepada para saksi yang dipanggil terkait dengan pembahasan proyek PLTU Riau-1 antara PT Pembangkit Jawa Bali Investasi (PJBI) dan perusahaan lain.

Sebelumnya, KPK telah mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga terkait dengan kasus itu, yaitu uang sejumlah Rp500 juta dalam pecahan Rp100 ribu dan dokumen atau tanda terima uang sebesar Rp500 juta tersebut.

Diduga, penerimaan uang sebesar Rp500 juta merupakan bagian dari komitmen “fee” 2,5 persen dari nilai proyek yang akan diberikan kepada Eni Maulani Saragih dan kawan-kawan terkait dengan kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1.

Penerimaan kali ini merupakan penerimaan keempat dari Johannes kepada Eni dengan nilai total setidak-tidaknya Rp4,8 miliar, yaitu Desember 2017 sebesar Rp2 miliar, Maret 2018 Rp2 miliar, dan 8 Juni 2018 Rp300 juta.

BACA JUGA:  Mensesneg Ajak Masyarakat Setop Aktivitas Selama 3 Menit saat 17 Agustus Pukul 10.17 WIB

Diduga uang diberikan oleh Johannes Budisutrisno Kotjo kepada Eni Maulani Saragih melalui staf dan keluarga. Adapun peran Eni adalah untuk memuluskan penandatanganan kerja sama terkait dengan pembangunan PLTU Riau-1. (ssd/net)